ANALISA PENDIDIKAN
(Sumber Data : Buku APK-APM SD, SMP & SMA Kab. Karawang Tahun 2008 : Kerjasama Bappeda dengan BPS Karawang)
Partisipasi Sekolah Penduduk Karawang
Angka Partisipasi Sekolah Dasar (APS SD)
Sumber Daya Manusia (SDM) merupakan aset penting suatu daerah, semakin tinggi tingkat pendidikan masyarakat suatu daerah semakin tinggi kualitas SDM diwilayah tersebut. Dengan tingginya tingkat pendidikan seseorang semakin luas kesempatan untuk mendapatkan lapangan pekerjaan dan penghasilan lebih baik dibanding mereka yang berpendidikan rendah. Mutu sumber daya manusia itu sendiri dapat tercermin dari tingkat pendidikan yang ditamatkannya. Di Kabupaten Kara\/ang di tahun 2008 Angka Partisipasi Sekolah (APS) penduduk usia 7-12 tahun (setara dengan jenjang pendidikan SD) telah mencapai 97,24 persen, yang berarti bahwa hampir semua penduduk usia 7-12 tahun sedang bersekolah. Angka tersebut naik jika dibandingkan dengan APS SD tahun 2007 sebesar 96,37 persen. APS laki-laki maupun APS perempuan menunjukkan angka yang tidak jauh berbeda yaitu 97,49 persen untuk laki-laki dan 96,97 persen untuk perempuan. lni menunjukkan bahwa jenis kelamin tidak berpengaruh untuk masuk pada jenjang pendidikan ini.
Dilihat berdasarkan kecamatan, Kecamatan Karawang Barat merupakan daerah yang APS usia 7-12 tahun paling tinggi, yaitu mencapai 98,87 persen. Hal ini dimungkinkan karena Kecamatan Karawang Barat adalah daerah perkotaan yang merupakan pusat Kota Karawang sehingga tingkat kesadaran para orang tua untuk menyekolahkan anaknya sudah cukup tinggi, ketersediaan sarana yang memadai serta akses ke sekolah yang mudah. Sementara pada tahun 2008 Kecamatan Tempuran capaian APS usia 7 -12 tahun merupakan yang terendah dan jika dilihat berdasarkan jenis kelamin, Kecamatan Kutawaluya merupakan daerah yang perbedaan APS laki-laki dan perempuannya cukup besar (98,03 dan 92,47) meskipun bukan daerah dengan APS terendah di Karawang.
Angka Partisipasi Sekolah Menengah (APS SMP)
Fenomena mengenai banyaknya anak-anak yang tidak sekolah lagi untuk melanjutkan ke SMP setelah lepas dari bangku SD dengan berbagai alasan dapat membuat pencapaian Angka Partisipasi Sekolah tingkat SMP melaju lamban. Salah satu alasan tersebut adalah adanya pemikiran para orang tua yang merasa cukup hanya menyekolahkan anaknya di SD saja, atau dikarenakan ketidakmampuan orang tua untuk menyekolahkan anaknya ke jenjang lebih tinggi. Pada tahun 2008 APS SMP di Karawang menunjukkan angka 79,55 persen. Walaupun nilai ini relative rendah namun jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya naik sebesar 0,91 persen (tahun 2007 sebesar 78,64 persen).
Dilihat dari nilai APS di masing-masing kecamatan di Kabupaten Karawang untuk tahun 2008 masih sebagian besar kecamatan di Karawang memiliki nilai APS dibawah nilai APS Kabupaten. Kecamatan Pakisjaya merupakan kecamatan yang memiliki nilai APS tingkat SMP yang paling rendah yaitu hanya mencapai 71,81 persen diikuti Kecamatan Jayakerta yang juga memiliki nilai APS rendah yaitu hanya mencapai 71,90 persen. Sedangkan untuk nilai APS tinggi tetap didominasi oleh daerah-daerah perkotaan seperti Kecamatan Cikampek (89,50 persen), Kecamatan Klari (89,20 persen), dan Kecamatan Karawang Barat (88,25 persen).
Secara keseluruhan untuk penduduk usia 13-15 tahun APS perempuan lebih tinggi dibandingkan APS laki-laki walaupun perbedaannya tidak terlalu mencolok, yaitu 79,80 persen dan 79,32 persen. Angka tersebut didukung oleh sebagian besar kecamatan di Karawang yang APS perempuannya lebih tinggi daripada APS laki-laki. Sementara itu untuk kecamatan yang berstatus perkotaan sebagian besar APS laki-lakinya lebih tinggi dari perempuan, misalnya Kecamatan Klari APS laki-laki 90,44 persen dan APS perempuan 88,01 persen. Hal ini bisa saja dikarenakan oleh perbedaan pola pemikiran penduduknya tentang pendidikan antar masing-masing daerah tersebut.
Angka Partisipasi Sekolah Tingkat Atas (APS SMA)
Di Kabupaten Karawang pada jenjang pendidikan tinggi atau Sekolah Menengah Atas (SMA) terlihat nilai APSnya lebih rendah dibandingkan jenjang pendidikan lainnya.Angka APS SMA karawang tidak sampai mencapai 50 persen, atau lebih tepatnya hanya mencapai 36,95 persen. Jika dilihat berdasarkan jenis kelamin, APS SMA perempuan terlihat lebih rendah dari nilai APS SMA kabupaten yaitu hanya mencapai 34,87 persen.
sedangkan untuk nilaiAPS sMA laki-laki bisa mencapai 38,63 persen.
Berdasarkan kecamatan-kecamatan yang ada di Karawang nilai APS SMA yang nilainya relative rendah berada pada Kecamatan Pakisjaya (18,13 persen), Kecamatan Cilamaya Kulon (19,91 persen) dan Kecamatan Cilamaya Wetan (20,92 persen). Ada kesamaan letak geografis dari ketiga kecamatan dengan nilai APS rendah tersebut yaitu sama-sama berada di daerah pinggir pantai utara (pantura). Banyaknya anak di usia SMA (16-18 tahun) yang tidak melanjutkan sekolah salah satunya dimungkinkan karena mereka bekerja atau mencari pekerjaan. Berdasarkan data dari Survei lndikator Pembangunan Manusia Kabupaten Karawang Tahun 2008 terlihat bahwa untuk usia 15-19 tahun ada sebanyak 19,50 persen yang bekerja dan 33,14 persen yang sedang mencari pekerjaan.
Untuk kecamatan dengan nilai APS SMA tinggi sebagian besar masih tetap didominasi oleh daerah perkotaan. Lima kecamatan dengan nilai APS SMA sedang di Kabupaten Karawang adalah Kecamatan Teluk Jambe Timur 58,75 persen, Kecamatan Cikampek 56,74 persen, Kecamatan Kotabaru 53,16 persen, Kecamatan Telukjambe Baral 52,45 persen, Kecamatan Karawang Barat 51,07 persen. Sedangkan untuk
kecamatan lainnya nilaiAPS SMA berkisar antara 20 sampai 50 persen.
Perkembangan APK - APM di Kabupaten Karawang
Angka Partisipasi Kasar Tingkat SD
Mungkinkah APK di bawah 100 persen? Pada awal-awal pembangunan orde baru dulu APK kita memang masih jauh di bawah 100 persen, apalagi APM. Bagaimana kalau APM 100 persen? ltu berarti arus masuk sekolah berjalan mulus karena telah terbangun budaya sekolah yang sudah merata ditunjang oleh ekonomi daerah yang tumbuh dengan bagus, kesejahteraan sudah tinggi. Dalam kenyataannya di semua negara-negara majupun APM tidak pernah sampai 100 persen, karena adanya faktor keberbedaan intelligence quotiens (lQ) dalam setiap populasi anak usia sekolah tertentu. Artinya, ada anak yang usia kalendernya 9 tahun misalnya, tetapi usia kecerdasannya 11 tahun, atau seballknya pada usia kalender g tahun usia kecerdasannya 7 tahun. Bagaimanapun anak yang pada usia 15 tahun misalnya masih duduk di kelas 6 SD tidak harus berarti usia kecerdasannya di bawah rata-rata. Masih banyak faktor lain ikut berpengaruh, seperti
faktor sosek, budaya, keluarga dan lingkungan.
Pencapaian Angka Partisipasi Kasar (APKi pada jeniang pendidikan SD di Karawang di Tahun 2008 ini mencapai 108,13 persen. Selama kurun waktu 2004-2008 masing-masing memperlihatkan angka-angka yang fluktuatif. Pada jenjang pendidikan SD nilai APK berturut-turut dari tahun 2004-2008 mencapai 105,83 persen, 102,03 persen, 109,36 persen, 113,87 persen, 108,13 persen.
Disparitas jender pada usia sekolah sudah tidak tedadi lagi dijenjang pendidikan SD . Artinya preferensi orang tua untuk lebih mengutamakan anak laki-laki bersekolah dibandingkan anak-perempuan sudah semakin terkikis. Kondisi tersebut dapat juga terlihat dari pencapaian APK SD yang sudah lebih dari seratus persen dari masing-masing kecamatan. Pencapaian nilai APK SD yang dapat melebihi seratus persen dikarenakan masih terdapatnya murid diluar batasan usia sekolah (baik yang lebih muda atau yang lebih tua) yang bersekolah pada jenjang pendidikan SD, misalnya usia 6 tahun atau 13 tahun masih duduk di bangk SD.

Untuk jenjang pendidikan tingkat SMP, nilai APK SMP dari tahun 2004 , 2008 masing-masing mencapai 70,83 persen, 80,96 persen; 90,52 percen; g0,6s persen; dan 83,16 persen. Jika dilihat berdasarkan kecamatan, di tahun 2008 ini sebagian besar kecamatan nilai APK SMP mengalami kenaikan. Hal ini menunjukkan bahwa sudah banyak murid-murid SD daritiap{iap kecamatan yang setelah lulus langsung melanjutkan ke SMP. Dan jika ditelaah lebih lanjut terlihat bahwa nilai APK SMP perempuan relatif lebih baik dibandingkan nilai APK SMP laki-laki yang masing-masing mencapai 83,48 persen untuk perempuan dan 82,85 Frsen untuk laki-laki. Pola yang hampir sama juga terlihat pada nilai APK SMP berdasarkan jenis kelamin dari tiap-tiap kecamatan.

Angka Partisipasi Kasar Tingkat SMA
p style="text-align: justify;">Pada tingkat pendidikan SMA, nilai APK SMA di Kabupaten Karawang Tahun I$OS mencapai 38,53 persen. Dilihat berdasarkan kecamatan, nilai APK SMA tertinggi :erada pada Kecamatan Klari dengan nilai 60,50 persen diikuti kecamatan Cikampek seoesar 59,80 persen dan Kecamatan Telukjambe Timur 52,82 persen. Sedangkan untuk Kecamatan dengan nilai APK SMA rendah berada pada Kecamatan Pakisjaya (24,02 persen), Kecamatan Cilebar (25,39 persen), dan Kecamatan Batujaya (26,45 persen).Jika dilihat berdasarkan jenis kelamin, nilai APK SMA laki-laki lebih tinggi dibandingkan nilai APK SMA perempuan berturut-turut sebesar 41,22 persen untuk laki-laki dan 35,20 persen untuk perempuan. Hal ini memperlihatkan bahwa disparitas gender masih ada pada jenjang pendidikan tingkat atas (SMA) ini. Jenis Kelamin laki-laki masih menjadi prioritas utama untuk dapat melanjutkan ke tingkat pendidikan SMA. Para orang tua menaruh harap yang besar terhadap anak laki-laki mereka untuk bisa melanjutkan ke tingkat lanjutan atas (SMA atau yang sederajat) dengan alasan agar anak-anak mereka bisa mendapatkan pekerjaan yang lebih baik dengan mengenyam pendidikan yang tinggi.
Angka Partisipasi Murni SD dan SMP
Di tahun 2008, baik pada jenjang pendidikan SD maupun SMP tidak ada perbedaan yang mencolok antara angka partisipasi murni laki-laki dengan perempuan di Karawang. Namun secara total angka partisipasi murni perempuan ternyata mampu mengungguli laki-laki pada jenjang pendidikan SD. Berdasarkan data menunjukkan bahwa APM SD laki-laki mencapai 96,22 persen dan APM SD perempuan mencapai 96,55 persen. Sedangkan kondisi yang sebaliknya terlihat pada angka partisipasi pada jenjang pendidikan tingkat SMP. Untuk APM SMP laki-laki mencapai 71,99 persen yang terlihat lebih baik jika dibandingkan dengan APM SMP perempuan yang hanya mencapai 71,05 persen. Kondisi ini menunjukkan semakin baiknya tingkat partisipasi sekolah penduduk usia sekolah pada jenjang pendidikan yang sesuai.

Angka Partisipasi Mumi(APM) berbeda cukup signifikan dengan Angka Partisipasi Kasar (APK). Pada Tahun 2008 APK SD/MI Kabupaten Karawang telah mencapai 108,13 persen yang relatif lebih besar jika dibandingkan dengan APM SD/MI yang baru mencapai96,38 persen.
Hal itu menunjukkan banyaknya siswa yang berusia di bawah tujuh tahun (underage) dan di atas 12 tahun (average). Dengan dimungkinkannya anak usia di bawah tujuh tahun untuk mengikuti pendidikan di SD/MI, maka jumlahnya cenderung meningkat, terutama didaerah perkotaan. Disisi lain, adanya anak-anak usia di atas 12 tahun yang masih duduk di bangku SD dapat disebabkan oleh dua kemungkinan. Pertama, anak-anak itu masuk SD di atas usia tujuh tahun. Kedua, adanya anak-anak yang mengulang kelas, sehingga mereka baru dapat menyelesaikan SD pada usia diatas 12 tahun.

Pada jenjang pendidikan SMP terlihat juga pebedaan yang relatif besar antara Angka Partisipasi Murni dengan Angka Partisipasi Kasar. Tahun 20Og APK SMP/sederajat Kabupaten Karawang sebesar 49,16 persen sementara APM SMP/sederajat 71,54 persen. Ada sekitar 11,62 persen murid SMP yang bersekolah diluar usia 13-15 seperti yang anjurkan pemerintah.
Analisis lebih lanjut mengenai disparitas APM dan APK SD/MI terlihat bahwa berdasarkan data susenas 2007 diketahui bahwa APM dan APK sD/Ml yang tinggi terjadi pada semua kelompok masyarakat. Tidak ada perbedaan yang signifikan antara daerah pedesaan dan perkotaan, antara laki-laki dan perempuan, dan antar kelompok ekonomi masyarakat yang diukur menggunakan pengeluaran konsumsi keluarga.
Semakin ke level pendidikan yang lebih tinggi, persentase yang bersekolah akan mengalami kecenderungan menurun karena penduduk masih berfokus untuk menamatkan pendidikan dasar. Namun dari tahun talu, APS kelompok umur SD dan SLTP, ini mengalami kenaikan yang cukup besar terutama pada kelompok umur 7 – 12 tahun.

Kemampuan Baca Tulis
Kemampuan baca tulis erat kaitannya dengan tingkat pendidikan. lndikator yang penting diantaranya persentase penduduk berumur 15 tahun keatas menurut kemampuan membaca dan menulis atau yang sering disebut dengan angka melek huruf. Berdasankan data BPS tahun 2007 persentase angka melek huruf laki-laki mencapai 57,75 persen yang sedikit lebih tinggi dibandingkan angka melek huruf perempuan yang hanya mencapai 42,25 persen.
Dilihat berdasarkan kemampuannya dalam membaca dan menulis, penduduk perempuan 15 tahun keatas yang tidak dapat membaca dan menulis mencapai 10,37 persen atau sekitar 77.711 jiwa. Angka tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan penduduk laki-laki yang hanya mencapai 7,52 persen atau sekitar 56.857 jiwa. Jika dilihat dari struktur kelompok umur penduduk yang tidak dapat membaca dan menulis terlihat bahwa terbanyak ada di kelompok usia tua yaitu sekitar 60,81 persen adalah penduduk dengan usia diatas 55 Tahun.
Dalam penelitian menunjukkan bahwa peran ibu dalam rumahtangga sangat penting. Balita dengan gizi buruk biasanya berasal dari keluarga yang mempunyai ibu yang berpendidikan rendah. lbu yang mempunyai kemampuan membaca dan menulis lebih mudah menerima informasi yang disampaikan dari media cetak maupun media elektronik. Dan keberhasilan generasi selanjutnya berawal dari keberhasilan pendidikan yang ditanamkan dalam lingkungan terkecil yaitu keluarga, dan dari peran orang tua, terutama peran ibu sebagai pendidik utama dalam keluarga.
Penduduk Berdasarkan Tingkat pendidikan yang ditamatkan
Selain dari indikator di atas bisa kita lihat keberhasilan bidang pendidikan dari banyaknya penduduk menurut jenjang pendidikan yang pernah diduduki, semakin tinggi persentase penduduk yang berpendidikan SD ke bawah menandakan kurang optimalnya program waiar dikdas, sebaliknya semakin sedikit penduduk yang berpendidikan SD kebawah menandakan optimalnya program wajar dikdas. Hal ini dapat dicapai tentu bukan hanya sekedar membangun sarana prasarana sekolah sebagai media pendidikan, yang lebih penting adalah membuat sadar masyarakat untuk menyekolahkan anak-anaknya paling tidak sampai SMP. Terutama di daerah pedesaan, selain akses jarak, yang lebih sulit adalah budaya yang masih kuat yaitu kebanggaan orang tua untuk menikahkan anak perempuan diusia muda.
Berdasarkan hasil survei sebagian besar penduduk usia 15 tahun keatas di Kabupaten Karawang yang tidak mempunyai ijazah yaitu sebanyak 30,21 persen (454.8422 jiwa). Dari jumlah tersebut kebanyakan perempuan yaitu mencapai 56,94 persen dibandingkan laki-laki yang mencapai 43,06 persen. Dan dari data tersebut juga terlihat hanya sebesar 37,63 persen penduduk usia 15 tahun keatas yang telah bisa menamatkan prograrn wajib belajar pendidikan dasar 9 tahun. Dan hanya sekitar 17,41persen diantaranya penduduk yang mempunya ijazah SMA keatas, keadaan seperti ini memang tidak akan tunas dalam waktu dekat, tetapi jika dibiarkan akan menjadi permasalahan pendidikan yang lebih serius dikemudian hari, perlu komitmen yang lebih baik dari semua pihak agar tingkat pendidikan masyarakat Karawang lebih baik sehingga daya saing Karawang diera globalisasi lebih baik lagi.

Sarana Sekolah
Keberadaan sarana sekolah disuatu daerah merupakan salah satu faktor penting yang dapat menyebabkan terhentinya seorang anak dalam mengenyam pendidikan (jenjang pendidikan SLTP keatas) sehingga akan menentukan besaran angka partisipasi sekolah anak usia SLTP ke atas (13-24 tahun). Perbedaan jenis kelamin maslh menjadi suatu alasan para orang tua dalam menyekolahkan anaknya. Kecenderungannya orang tua lebih berani menyekolahkan anak laki-laki dibandingkan perempuan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi dan tempat yang relatif jauh dengan harapan kelak mereka dapat membantu perekonomian keluarga di masa datang.
Pada tahun 2008 hasil pendataan PODES'08 menunjukkan bahwa di Kabupaten Karawang ada kurang lebih 167 desa tidak mempunyai sarana pendidikan SMP, dan sejumlah,72 desa diantaranya, bila penduduknya yang ingin bersekolah ke SMP terdekat harus menempuh perjalanan lebih dari 3 km. Untuk jenjang pendidikan lebih tinggi ada kurang lebih 266 desa tidak mempunyai sarana pendidikan SMA, bila penduduknya ingin bersekolah ke SMA terdekat, sebanyak 68 desa harus menempuh 1-3 km, penduduk di 64 desa menempuh 3 - 5 km, penduduk di 99 desa menempuh S - 10 dan penduduk di 45 desa harus menempuh lebih dari 10 km untuk sampai di sekolah.
Hal ini bisa menjadi penyebab daya serap pendidikan di beberapa kecamatan kurang optimal karena setiap anak sekolah harus mengeluarkan biaya transport yang membebani sebagian biaya pendidikan, mungkin bila jarak yang ditempuh lebih dari 5 km, bahkan diatas 10 km akan menyebabkan biaya transport lebih tinggi dari biaya pokok pendidikanya itu sendiri.
Ada 2 aspek yang harus dicermati yaitu pertumbuhan penduduk usia sekolah sebagai sisi permintaan dan pertumbuhan jumlah sekolah sebagai sisi penyediaan. Keseimbangan percepatan pertumbuhan keduanya harus terjaga, selain pertumbuhan penduduk alami antara lain kelahiran dan kematian juga perlu diamati pertumbuhan penduduk karena migrasi, karena banyaknya pembangunan industri di Karawang akan mendorong penduduk dari daerah lain untuk bermigrasi ke Karawang. Pertumbuhan sarana pendidikan selayaknya bisa melampaui permintaan, agar bisa menyerap anak usia sekolah untuk mendapatkan pendidikan yang baik. Distribusi sarana sekolah SMP dibeberapa kecamatan masih terasa kurang, bila dibandingkan dengan pertambahan penduduk usia sekolah yang semakin meningkat dari tahun ke tahun.
Untuk tahun 2007, sesuai pemetaan dari pemerintah pusat, Kabupaten Karawang akan mendapatkan alokasi pembangunan 11 unit Sekolah Baru (USB) SMF, yang lokasinya diarahkan pada kecamatan-kecamatan yang angka APM-nya rendah. Oleh Pemerintah Kabupaten Karawang, lokasi USB SMP tersebut diarahkan pada kecamatan-kecamatan yang jauh jarak tempuhnya kepada SMP yang sudah ada. Dengan kebijakan ini, diharapkan dapat mengurangi biaya transport yang dikeluarkan siswa untuk sekolah. Program ini pada akhirnya diharapkan dapat mengurangi angka drop out siswa yang sekolah dengan alasan jarak atau biaya transportasi yang mahal.
Kemampuan Masyarakat
Perlu dipahami juga persoalan pendidikan bukan hanya sekedar sarana atau prasarana saja, tetapi disisi lain kemampuan masyarakat yang terbatas untuk menyekolahkan anaknya, terutama masyarakat miskin. Akses untuk menempuh jenjang pendidikan SMP akan terasa sulit bilamana, lokasi atau jarak sarana yang ada sulit untuk dicapai dalam arti mengeluarkan biaya cukup mahal untuk tranportasi yang sangat dihindari oleh penduduk miskin.
Ketidakpedulian orang tua dari keluarga miskin terhadap kebutuhan pendidikan anak-anaknya masih terasa kental, bahkan dipaksa untuk bekerja agar dapat menambah penghasilan orang tua guna memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga.
Pada awal tahun 2007, Pemerintah Kabupaten Karawang telah menandatangani kesepakatan dengan pemerintah pusat untuk dijadikan pitot projecf program Keluarga Harapan (PKH). Secara langsung PKH dapat mengurangi beban pengeluaran Rumah Tangga Sangat Miskin (RTSM) melalui pemberian bantuan tunai oleh pemerintah, dengan persyaratan menyekolahkan anak bagi anggota RTSM yang menjadi peserta PKH serta mendapatkan pelayanan kesehatan bagi anak usia 0 - 6 tahun dan ibu hamil. Dengan PKH diharapkan dapat mengurangi kasus anak usia sekolah dari RTSM yang dipaksa bekerja dengan alasan untuk memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga.
Budaya Masyarakat
Pembangunan human capital yang memiliki arti daiarn menaikkan kualitas pendidikan turut juga ditentukan oleh visi ke depan para orang tua di masyarakat kita. Tingkat kesadaran akan pentingnya pendidikasn relatif maslh, rendah di beberapa kalangan masyarakat, khususnya pada golongan ekonomi menengah ke bawah.
Selain itu masih terlihat cukup banyak "kesalahan" masyarakat dalam menentukan skala prioritas alokasi pola pengeluaran dalam konclisi ekonomi yang serba terbatas. Contohnya, secara umum masyarakat kita cenderung lebih konsumtif dalam membelanjakan uang untuk barang tahan lama. Budaya atau kebiasaan untuk menyelenggarakan perayaan pesta pernikahan atau khitanan secara besar-besaran di luar kemampuan ekonomi juga masih tampak. Mereka rela berhutang atau menjual harta benda untuk melakukan acara tersebut, karena menurut mereka semua itu merupakan representasi kebanggaan dan harga diri. Berbeda halnya ketika mereka harus menyisihkan untuk membeli keperluan sekolah atau buku-buku guna mendukung pendidikan. Hal ini sangat berat untuk dilaksanakan. Mereka mengeluh dengan argumen klasik yaitu "tidak punya uang" .
















